24 Juni 2013

Usaha itu Berbuah Manis

Alhamdulillah, setelah berjuang selama 6 bulan ini, akhirnya gue dapat mempertahankan yang gue raih semester kemaren

GUE DAPET JUARA 2 LAGII!!!!!!!

Momen ini menurut gue sangat emosional banget, karna gue gak nyangka bisa tetap mempertahankan 'gelar' itu. Sampai hari ini gue masih juga belum bisa percaya, tapi yang penting tetap alhamdulillah :D

Sebenarnya sih kalau menurut gue, semester ini gue lebih rajin daripada semester 1 kemaren. Tapi sayangnya gue sering banget telat ngumpulin tugas, yang ternyata berpengaruh besar sama nilai gue.

Pada penerimaan rapor mid semester, gue dapet rangking 5, akibat gue remed pelajaran Sosiologi. Turun dari mid pada semester 1 lalu dimana gue dapet rangking 3. Gue iri banget, teman gue yang awalnya dibawah gue malah sekarang berhasil 'mengangkangi' gue.

Tapi gue berpikir positif aja, mungkin mereka belajar lebih rajin dari gue. Dan dari hari itu gue mulai mencanangkan target harus bisa mempertahankan apa yang telah gue raih pada semester lalu, bahkan ingin meningkatkannya lagi.

Gue amalkan tuh pepatah man jadda wajada dan man shabara zhafira yang gue dapet dari novel favorit gue, yaitu Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna. Mungkin saat itu gue belum saatnya untuk dapat meraih hasil seperti semester lalu, jadi gue harus bersabar. Dan gue juga harus meningkatkan lagi belajar gue, harus lebih serius lagi, dan harus berjuang diatas rata-rata orang lain.

Banyak juga godaannya sih, tapi gue menolak untuk menyerah, gue harus belajar lebih giat, giat, dan giat lagi, agar gue dapat meraihnya lagi.

Dan ujian kenaikan kelas pun tiba. Pada saat gue belajar untuk hari pertama ujian, rumah gue malah mati lampu. Gue bertekad untuk menunggu sampai lampu idup, dan ironisnya gue malah ketiduran! Ya ketiduran, sial banget nasib gue. Dan paginya gue cuman sempet baca buku Agama Islam tanpa sempat belajar Fisika.

Gue mulai ujian dengan berdoa dan perasaan pesimistis karena usaha gue kurang banget. Alhamdulillah soalnya gak terlalu rumit, sehingga gue sukses melewati ujian Agama Islam. Dan pada pelajaran Fisika, gue kaget banget, karna ada pelajaran yang belum dipelajari tapi malah keluar di ujian itu. Dan akhirnya gue pasrah aja sama ujian Fisika karna gue sadar usaha gue kurang.

Belajar dari itu, gue pun bertekad untuk terus belajar sampai jam 3 dini hari setiap harinya. Tak lupa gue Shalat Tahajjud agar diberi kemudahan dalam menjawab berbagai soal ujian.

Ujian pun selesai, namun tetap ada yang mengganjal di hati, yaitu masalah remed. Gue takut banget kalau ada sampai yang remed. Gue udah tanamkan dalam hati bahwa ilmu itu lebih penting daripada nilai, tapi tetap aja gue gak tenang.

Dan ternyata kekhawatiran gue terbukti, gue remed pelajaran Sosiologi dan Bahasa Indonesia. Kenapa ya gue selalu bermasalah sama Sosiologi ni? Bingung gue jadinya. Kalau Bahasa Indonesia lebih ironis lagi, satu kelas semuanya remed!!!!! Gilak gak tu? Baru kali ini gue liat satu kelas remed semua.

Masalah remed pun selesai. Tapi, tetep aja gue gak tenang. Gue semakin berfikir musatahil untuk dapat mempertahankan apa yang gue dapat pada semester lalu, bagi gue nilai naik saja sudah cukup lah.

Hampir tiap hari sehabis ujian sampai menerima rapor gue Shalat Tahajjud terus sangking takutnya. Doa gue, ini ni :

"Ya Allah, bantulah hamba untuk dapat mempertahankan apa yang telah hamba raih pada semester lalu. Hamba tidak tahu apakah usaha hamba sudah maksimal, hamba sungguh sangat memohon padamu Ya Allah. Bantulah hamba untuk dapat membuat kedua orang tua bangga terhadap hamba Ya Allah. Aamiin."


 Ada kalanya gue hampir nangis tiap membaca doa ini. Pokoknya gue betul-betul takut ketika itu.

Dan hari penerimaan rapor pun tiba, gue pergi duluan naik motor. Dan ibu gue nyusul nanti karna harus menghadiri pernikahan kakak sepupu gue dulu.

Dan dibacakan lah nama siswa yang masuk 10 besar di kelas gue sama wali kelas gue, Pak Syukri namanya. Pak Syukri membacanya dari urutan ke-10. Jujur aja gue takut karna nama gue gak disebut-disebut dari tadi. Dan pada peringkat ke-2 Pak Syukri pun menyebut nama gue.

Alhamdulillah, itulah kata yang pertama kali keluar dari mulut gue dan berkali-kali terucap. Allah itu luar biasa, gue yang cuman berharap nilai gue naik awalnya akhirnya dapat mempertahankan apa yang gue raih pada semester lalu. Terimakasih Ya Allah.

Ini ni urutan 10 besar di kelas gue :

  1. Muhammad Firdaus Putra
  2. Fortinov Akbar Irdam (gue)
  3. Septy Ela Pratiwy
  4. Aulia Masta
  5. Suci Hidayati
  6. Maryani Aritonang
  7. Hergyta Putri Ayusanda
  8. Nadilla Asyanin
  9. Tassya Mayasafira
  10. Indriyana Naomi

Alhamdulillah, gue bukan cuma dapat mempertahankan apa yang gue raih, tapi nilai gue pun naik, walaupun ada beberapa pelajaran yang mengalami penurunan. Yang penting ilmunya dapat, itu yang lebih penting.

Dan yang lebih menggembirakan lagi gue pun masuk jurusan IPA pada kelas XI nanti. Ini pun semakin memperlebar jalan gue untuk meraih mimpi gue.

Terimakasih Ya Allah. Engkau sungguh maha pengabul doa dan engkau mampu memberikan sesuatu yang lebih dari yang diharapkan. Terimakasih Ya Allah.

21 Desember 2012

Rahasia Otak Jenius Einstein

Nah kali ini gue mau berbagi sedikit pengetahuan kepada kalian yang sedang membaca artikel ni.

Tau kan sama Albert Einstein? Itu loh seorang ahli fisika yang terkenal di abad 20. Kalau lupa sama orangnya ini ni gue kasih tau fotonya




Udah ingat kan? Nah, sekarang gue mau ngebahas tentang kenapa si Einstein ini bisa jenius banget. Malah IQ nya aja ada diatas 250. Gilak gak tuh?

Ini ni gue kasih tau rahasianya. Ini info dari detikcom, situs berita digital yang cukup terkenal di Indonesia.


Sosok Albert Einstein, fisikawan terbesar abad ke-20, masih menyimpan pesona hingga kini. Dulu ketika ia wafat tahun 1955 lalu, dalam usia 76 tahun, dokter yang mengautopsinya Thomas Harvey sengaja menyimpan organ otaknya. Untuk mengetahui rahasia di balik kejeniusan penemu teori relativitas itu. 

Harvey mengiris-iris otak Einstein, menyelidikinya di bawah mikroskop. Ia juga memotretnya, menghasilkan 14 foto dari berbagai sudut pandang. 

Seperti dimuat LiveScience, dari hasil kerja Harvey, para ilmuwan akhirnya bisa menguak keistimewaan organ utamanya itu. Otak Einstein ternyata punya pola lipatan yang istimewa di beberapa titik, yang membantu menjelaskan asal mula kejeniusannya. 

Dalam foto yang dipublikasikan 16 November 2012 di jurnal Brain, mengungkap, ilmuwan brilian itu memiliki lipatan di wilayah abu-abu otaknya, tempat pikiran sadar (concious) berada. Secara khusus, lobus frontal (frontal lobes), wilayah yang berkaitan dengan pikiran abstrak dan perencanaan, tak biasanya memiliki lipatan rumit.

"Ini adalah bagian paling istimewa, canggih dalam otak manusia, kata Dean Falk, penulis pendamping laporan, sekaligus antropolog dari Florida State University, menyinggung soal wilayah abu-abu itu. "Dan milik Einstein sangat luar biasa." 

Lebih banyak koneksi

Tim ilmuwan juga menemukan, secara keseluruhan, otak Einstein punya lipatan yang jauh rumit di cerebral cortex, materi abu-abu di permukaan otak yang bertanggung jawab atas pikiran sadar. Atau dalam bahasa sederhana, makin tebal materi abu-abu, makin tinggi IQ seseorang. 

Falk mengatakan, banyak ilmuwan meyakini, makin banyak lipatan, makin banyak area ekstra untuk proses mental, yang memungkinkan lebih banyak koneksi antara sel otak. 

Dengan makin banyaknya koneksi antara bagian yang saling berjauhan dari otak, seseorang akan mampu membuat "lompatan mental" menggunakan sel-sel otak yang jauh untuk menyelesaikan persoalan kognitif. 

Sementara, prefrontal cortex, yang memainkan peranan kunci dalam pikiran abstrak, membuat prediksi dan perencanaan, juga memiliki pola lipatan rumit di otak Einstein. 

Itulah yang mungkin membantu fisikawan itu mengembangkan teori relativitas. "Dia memikirkan sejumlah eksperimen, ketika ia membayangkan dirinya sendiri menaiki balok-balok cahaya," kata Falk. "Bagianprefrontal cortex-nya mungkin sangat aktif."

Tak hanya itu, bagian lobus oksipital (occipital lobes), yang bertanggung jawab pada pemrosesan visual, juga menunjukkan adalah lipatan ekstra. 

Falk menambahkan, lobus parietal (parietal lobes) kiri dan kanan Einstein tidak simetris. Meski demikian, belum diketahui pengaruhnya atas kejeniusan ilmuwan itu. 

Dari lahir atau karena proses?

Para ilmuwan juga belum bisa menebak apakah otak Einstein sudah istimewa sejak lahir, atau akibat proses merenungkan sains, fisika, dan matematika. 

Falk meyakini, bisa jadi karena keduanya. 

"Dua faktor sekaligus, alami sekaligus bagaimana dia memeliharanya," kata Falk. "Einstein terlahir dengan otak istimewa, dan pengalamannya membuatnya mengembangkan potensinya." 

Pendapat berbeda diungkap Sandra Witelson dari Michael G. De Groot School of Medicine, McMasters University, yang pernah menyelidiki otak Einstein. Menurut dia, kemampuan Einstein lebih bersifat alami ketimbang hasil kerja keras. 

Pada 1999 , hasil kerjanya menguak lobus parietal kanan Einstein punya lipatan ekstra, yang dihasilkan oleh gen atau terbentuk saat ia masih dalam kandungan. 

"Bukan masalah lebih besar atau lebih kecil. Tapi pola otaknya sangat berbeda," kata Witselson. "Anatomi otaknya unik, dibandingkan dengan foto atau gambar otak manusia yang pernah direkam."




Nah, sekarang udah pada tau kan kenapa si Einstein ini bisa jenius banget? Rupanya bukan sekedar karna dia suka belajar aja ya, tapi juga karna otaknya yang unik itu.

Oh iya, ini gue juga mau nunjukkin otak si Einstein ini